ReraNews.id, Kota Bima – Penganiayaan terhadap seorang wasit dalam Turnamen Wali Kota Cup di Lapangan Mako Brimob menuai kecaman dari berbagai pihak. Ketua Umum HMI MPO Cabang Bima menilai insiden tersebut sebagai peristiwa serius yang tidak boleh diperlakukan sebagai keributan biasa dalam pertandingan sepak bola.
Menurut dia, tindakan kekerasan terhadap wasit merupakan tindak pidana yang harus menjadi prioritas penanganan aparat penegak hukum. Karena itu, ia mendesak agar pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai ketentuan yang berlaku.
”Ketika seorang wasit dianiaya karena menjalankan tugasnya, maka yang sedang diserang bukan hanya individu, tetapi juga aturan, keadilan, dan marwah olahraga itu sendiri,” kata Ketua Umum HMI MPO Cabang Bima, Sabtu, 30 Mei 2026.
Ia menilai kelanjutan turnamen di tengah belum tertangkapnya pelaku justru berpotensi melukai rasa keadilan masyarakat. Menurutnya, penyelenggara tidak boleh terkesan lebih mementingkan keberlangsungan kompetisi dibandingkan penegakan hukum atas tindak kekerasan yang terjadi.
”Hentikan sementara turnamen. Jangan biarkan hukum kalah oleh sepak bola. Tidak ada pertandingan yang lebih penting daripada keselamatan manusia dan tegaknya keadilan,” ujarnya.
Ketua Umum HMI MPO Cabang Bima juga menyoroti lokasi terjadinya insiden yang berlangsung di kawasan Mako Brimob. Menurut dia, fakta bahwa penganiayaan terhadap wasit dapat terjadi di lokasi tersebut telah memunculkan kegelisahan dan pertanyaan publik mengenai efektivitas pengamanan pertandingan.
”Peristiwa ini terjadi di tempat yang selama ini dipersepsikan masyarakat sebagai simbol keamanan. Jika seorang wasit bisa menjadi korban kekerasan di sana, maka wajar apabila publik mempertanyakan sejauh mana jaminan keamanan diberikan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam turnamen,” katanya.
HMI MPO Cabang Bima juga mempertanyakan tanggung jawab pihak-pihak yang selama ini memiliki otoritas dan peran penting dalam pelaksanaan Turnamen Wali Kota Cup, termasuk Komandan Batalyon (Danyon) Brimob yang namanya disebut-sebut dalam berbagai pembicaraan publik terkait penyelenggaraan turnamen tersebut.
Menurut Ketua Umum HMI MPO Cabang Bima, apabila terdapat pihak yang memiliki kewenangan, menerima manfaat, atau terlibat dalam pengelolaan kegiatan, maka sudah semestinya mereka ikut bertanggung jawab menjelaskan kepada publik bagaimana insiden penganiayaan terhadap wasit bisa terjadi.
”Hari ini publik tidak hanya menuntut penangkapan pelaku. Publik juga berhak bertanya, di mana tanggung jawab pihak-pihak yang memiliki peran dalam penyelenggaraan turnamen ini? Jika selama turnamen ada pihak yang memiliki otoritas, pengaruh, maupun manfaat dari kegiatan tersebut, maka mereka juga harus hadir menjelaskan kepada masyarakat ketika terjadi insiden kekerasan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tragedi penganiayaan wasit tidak boleh hanya dibebankan kepada pelaku di lapangan semata, tetapi juga harus menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak yang memiliki tanggung jawab atas keamanan, ketertiban, dan jalannya kompetisi.
”Jangan sampai yang terlihat hanya keuntungan dan kemeriahan turnamen, sementara ketika terjadi penganiayaan, tidak ada satu pun pihak yang tampil mengambil tanggung jawab moral di hadapan publik. Masyarakat menunggu penjelasan, bukan sekadar diam,” kata Ketua HMI MPO Cabang Bima.
”Kami menolak segala bentuk upaya yang mengarah pada pembiaran. Siapa pun pelakunya harus diproses. Jangan sampai muncul kesan bahwa ada pihak-pihak yang kebal hukum hanya karena berada dalam momentum sebuah turnamen,” ujarnya.
Menurut Muzakir, Ketua Umum HMI MPO Cabang Bima, penghentian sementara kompetisi merupakan langkah yang diperlukan untuk menunjukkan bahwa penyelenggara memiliki komitmen terhadap keselamatan perangkat pertandingan dan penghormatan terhadap proses hukum.
”Mustahil berbicara tentang sportivitas ketika wasit yang menjadi simbol penegakan aturan justru menjadi korban kekerasan. Sebelum pelaku ditangkap, sebelum ada kepastian hukum, maka tidak ada alasan moral bagi turnamen untuk berjalan seolah tidak terjadi apa-apa,” kata dia.
HMI MPO Cabang Bima menyatakan akan mengawal kasus tersebut hingga pelaku ditangkap dan diproses secara hukum. Ketua Umum HMI MPO Cabang Bima, juga mendesak panitia, pemerintah daerah, dan aparat keamanan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan turnamen.
”Bagi kami, persoalan ini sederhana: tangkap pelaku, tegakkan hukum, dan hentikan sementara turnamen sampai keadilan bagi korban benar-benar ditegakkan,” ujarnya.
Editor: ReraNews.id

















Leave a Reply