reranews.id, Mataram —Januari 2026 Sekretaris Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Nusa Tenggara Barat, Wildan Ummairah, menyoroti maraknya grup LGBT di media sosial yang anggotanya mencapai ribuan orang di berbagai wilayah NTB. Menurutnya, fenomena tersebut bukan sekadar persoalan digital, tetapi mencerminkan absennya negara dalam menjaga ruang sosial dan nilai-nilai generasi muda.
“Ini bukan lagi isu kecil di dunia maya. Ketika puluhan grup LGBT tumbuh subur di NTB dan anggotanya ribuan, itu menunjukkan ada pembiaran serius dari negara. Negara seolah kehilangan keberanian dan arah dalam melindungi ruang sosial generasi muda,” kata Wildan Ummairah, Selasa (19/1).
Wildan menilai, maraknya komunitas LGBT di ruang digital NTB tidak terjadi dalam ruang hampa. Fenomena itu, kata dia, lahir dari kevakuman kebijakan, lemahnya kontrol terhadap ruang digital, serta minimnya kehadiran negara dalam pendidikan karakter dan literasi sosial.
“NTB dikenal sebagai daerah religius dengan kearifan lokal yang kuat. Tapi hari ini kita menyaksikan nilai-nilai itu tergerus oleh arus budaya global yang dibiarkan masuk tanpa filter. Negara hanya menjadi penonton, sementara ruang digital membentuk orientasi sosial anak-anak muda tanpa arah yang jelas,” ujarnya.
Ia juga menyoroti keterlibatan remaja dalam grup-grup tersebut. Menurutnya, kondisi itu sangat mengkhawatirkan karena terjadi di tengah rendahnya literasi digital dan minimnya perlindungan negara terhadap anak dan remaja.
“Dalam situasi seperti ini, negara tidak bisa berlindung di balik dalih kebebasan berekspresi. Kebebasan yang dilepaskan tanpa tanggung jawab sosial hanya akan melahirkan krisis nilai dan krisis identitas generasi muda,” tegasnya.
Wildan menambahkan, fenomena ini membuka borok ketimpangan kebijakan sosial di NTB. Ia menilai pemerintah terlalu sibuk membangun infrastruktur fisik, tetapi lalai membangun infrastruktur moral dan mental generasi muda.
“Ketika ruang digital dibiarkan liar, yang tumbuh bukan hanya komunitas yang menyimpang dari norma sosial dan budaya lokal, tetapi juga krisis identitas yang akan kita tuai dampaknya di masa depan. Ini bukan sekadar isu moral, tetapi persoalan tanggung jawab negara menjaga tatanan sosial,” kata Wildan.
Menurutnya, maraknya grup LGBT di NTB adalah refleksi dari absennya politik kebudayaan yang berpihak pada nilai-nilai lokal dan karakter bangsa. Ia menilai negara hari ini terlalu permisif dan terlalu takut dianggap tidak modern.
“Jika ini terus dibiarkan, yang dipertaruhkan bukan hanya soal orientasi seksual, tetapi masa depan generasi NTB yang kehilangan pijakan nilai, identitas, dan arah hidup. Fenomena ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi para pemangku kebijakan,” pungkas Wildan Ummairah.

















Zainard
Karena penerapan sistem kufur demokorasi sekuker inilah yang menjadi pangkal legitimasi kemaksiatan di negeri. Rusaknya tatanan hukum, sosial, ekonomi dll meluas keseluruh sendi kehidupan individu, kekuarga, masyarakat dan negara. Semua itu menjauhkan negeri ini jauh dari keberkahan serta mengundang azab alloh swt.