Dialog publik yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Alor NTT Mataram.
ReraNews.id, Mataram – Sekretaris Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EW LMND) NTB, Wildan Ummairah, menghadiri dialog publik yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Alor NTT Mataram dalam momentum peringatan Kartini, dengan tema “Antara Harapan Perempuan sebagai Penggerak dan Realitas Sosial”.
Kegiatan yang berlangsung di SDN 47 Mataram ini dihadiri oleh berbagai organisasi paguyuban se-NTT serta mahasiswa dari sejumlah kampus di Kota Mataram.
Dalam forum tersebut, Wildan Ummairah menyampaikan kritik tajam terhadap narasi yang selama ini menempatkan perempuan sebagai “penggerak perubahan”, namun tidak diiringi dengan perubahan sistem yang mendukung. Menurutnya, perempuan terus didorong untuk kuat, mandiri, dan produktif, tetapi pada saat yang sama tetap dibatasi oleh struktur sosial yang timpang.
“Perempuan dijadikan simbol perubahan, tapi realitasnya masih dibelenggu oleh sistem yang tidak adil. Ini bukan sekadar kontradiksi, tapi bentuk nyata dari ketimpangan yang terus dipelihara,” tegasnya.
Wildan juga memaparkan sejumlah perspektif aliran feminisme dunia sebagai pisau analisis. Ia menjelaskan bahwa feminisme liberal menyoroti ketimpangan akses perempuan terhadap pendidikan dan pekerjaan, sementara feminisme radikal melihat akar persoalan pada budaya patriarki yang mengontrol peran dan tubuh perempuan.
Di sisi lain, feminisme Marxis mengungkap bagaimana perempuan kerap menjadi objek eksploitasi dalam sistem ekonomi, sedangkan feminisme interseksional menunjukkan bahwa pengalaman perempuan berbeda-beda tergantung pada kelas sosial dan latar belakangnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa berbagai teori tersebut memperlihatkan satu benang merah: ketimpangan yang dihadapi perempuan bukanlah persoalan individu, melainkan persoalan struktural yang mengakar dalam sistem sosial.
Dalam konteks realitas sosial, Wildan menyoroti berbagai persoalan konkret yang masih dihadapi perempuan, di antaranya keterbatasan akses pendidikan, beban ganda antara kerja publik dan domestik, serta tingginya angka kekerasan berbasis gender.
Ia juga menekankan kuatnya budaya patriarki yang masih mengontrol ruang gerak perempuan dan membatasi peran mereka dalam pengambilan keputusan.
“Perempuan dituntut menjadi penggerak di semua lini, tapi tidak diberikan ruang, akses, dan perlindungan yang memadai. Ini menunjukkan bahwa sistem kita masih jauh dari keadilan,” lanjutnya.
Dialog publik ini berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif dari mahasiswa dan organisasi paguyuban. Diskusi tidak hanya menjadi ruang refleksi, tetapi juga menjadi wadah kritik terhadap kondisi sosial yang masih timpang, sekaligus mendorong kesadaran kolektif untuk melakukan perubahan.
Kegiatan ini menegaskan bahwa perjuangan perempuan tidak cukup hanya dirayakan dalam momentum seremonial, tetapi harus diiringi dengan keberanian untuk membongkar struktur ketidakadilan yang ada. Tanpa itu, narasi perempuan sebagai “penggerak” hanya akan menjadi slogan kosong yang justru membebani perempuan itu sendiri.
Editor: ReraNews.id

















Leave a Reply