Advertisement

Gudang Penuh Sebelum Panen: Indikasi Permainan dalam Penyerapan Jagung di Bima

ReraNews.id, Bima – Aktivitas penimbangan jagung di wilayah Kota dan Kabupaten Bima dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan kondisi yang tidak normal. Gudang milik Badan Urusan Logistik (Bulog) dipadati oleh truk pengangkut jagung, menyebabkan antrean penimbangan berlangsung hingga berminggu-minggu.

Tim ReraNews.id menemukan bahwa petani lokal mengalami kesulitan untuk mendapatkan giliran menimbang. Beberapa petani mengaku telah menunggu lama tanpa kepastian jadwal. Kondisi ini tidak hanya memperlambat proses penjualan, tetapi juga meningkatkan risiko penurunan kualitas jagung akibat penyimpanan yang terlalu lama.

Yang menjadi persoalan utama adalah waktu terjadinya kondisi ini. Antrean panjang biasanya terjadi saat panen raya. Namun di Bima, kondisi serupa sudah terjadi sebelum masa panen puncak dimulai. Fakta ini menimbulkan pertanyaan mengenai sumber jagung yang memenuhi gudang Bulog dalam waktu yang relatif singkat.

Keterbatasan kapasitas gudang memang dapat menjadi salah satu faktor. Namun jika antrean sudah terjadi sebelum panen raya, maka ada kemungkinan lain yang perlu diperhatikan, terutama terkait alur masuknya jagung ke dalam sistem penyerapan.

Petani Lokal Terpinggirkan dalam Akses Penimbangan

Dampak langsung dari kondisi ini adalah terbatasnya akses petani lokal terhadap penimbangan di Bulog. Banyak petani akhirnya memilih menjual jagung mereka ke gudang swasta atau pengepul dengan harga yang lebih rendah.

Temuan di lapangan menunjukkan bahwa transaksi di luar Bulog berlangsung lebih cepat, meskipun harga yang diterima petani berada di bawah harga acuan pemerintah. Dalam kondisi ini, petani tidak memiliki banyak pilihan. Kebutuhan ekonomi yang mendesak memaksa mereka untuk menjual cepat, meskipun dengan kerugian.

Situasi ini memperlihatkan adanya ketidakseimbangan akses. Ketika fasilitas penimbangan resmi sulit diakses, maka fungsi Bulog sebagai stabilisator harga menjadi tidak berjalan efektif. Petani yang seharusnya mendapatkan perlindungan justru berada dalam posisi yang lebih lemah.
Beberapa petani juga menyampaikan bahwa antrean di Bulog tidak sepenuhnya transparan. Informasi terkait jadwal penimbangan dan prioritas tidak selalu jelas, sehingga menimbulkan persepsi bahwa ada pihak-pihak tertentu yang mendapatkan akses lebih cepat.

Indikasi Masuknya Jagung Luar dan Dugaan Permainan

Temuan penting lainnya adalah adanya indikasi bahwa sebagian jagung yang ditimbang di Bulog Bima berasal dari luar daerah, seperti Dompu dan Sumbawa. Indikasi ini diperkuat oleh kondisi gudang yang sudah penuh sebelum panen raya di Bima berlangsung.

Masuknya jagung dari luar daerah sebenarnya tidak sepenuhnya dilarang dalam sistem distribusi. Namun dalam kondisi kapasitas terbatas, seharusnya terdapat pengaturan prioritas bagi petani lokal. Ketika hal ini tidak terlihat di lapangan, muncul dugaan adanya praktik yang tidak sepenuhnya transparan.

Tim ReraNews.id menemukan adanya persepsi kuat di kalangan petani bahwa terdapat “jalur cepat” bagi pihak tertentu untuk melakukan penimbangan. Dugaan ini mengarah pada kemungkinan adanya permainan dalam proses penyerapan, baik dalam bentuk pengaturan antrean maupun akses masuk ke gudang.

Perlu ditegaskan bahwa temuan ini masih bersifat indikatif dan memerlukan klarifikasi lebih lanjut dari pihak terkait, termasuk dari Badan Urusan Logistik (Bulog). Namun kondisi di lapangan menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara tujuan kebijakan penyerapan dengan praktik yang terjadi.

Jika indikasi ini tidak segera ditindaklanjuti, maka dampaknya tidak hanya merugikan petani lokal, tetapi juga berpotensi merusak kepercayaan terhadap sistem distribusi pangan. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi menyeluruh, termasuk transparansi dalam mekanisme penimbangan dan pengawasan terhadap alur distribusi jagung antar daerah.

Editor: ReraNews.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *