Advertisement

Politik Desa: Dalam perspektif Politik Profetik dan Amoral Familisme

reraNews.id – Dalam perspektif politik Profetik dan Amoral Familisme, politik Desa merupakan arena sosial yang unik. Ia tidak hanya berbicara tentang kontestasi kekuasaan, tetapi juga menyangkut relasi kekerabatan, nilai budaya, serta struktur sosial yang mengakar kuat.

Pada banyak kasus, politik Desa berjalan bukan semata-mata berdasarkan program dan gagasan, melainkan melalui jaringan keluarga dan loyalitas sosial.

Untuk memahami fenomena ini, pendekatan teori amoral familism dari Edward C. Banfield, dapat digunakan sebagai alat analisis, lalu dikolaborasikan dengan perspektif politik profetik sebagai tawaran etis-normatif.

Amoral Familisme Dalam Politik Desa

Dalam karyanya The Moral Basis of a Backward Society. Banfield, menjelaskan bahwa dalam masyarakat tertentu, individu cenderung bertindak demi kepentingan keluarga inti semata, dengan asumsi bahwa orang lain pun melakukan hal yang sama. Orientasi ini melahirkan loyalitas tinggi terhadap keluarga, tetapi lemah terhadap kepentingan publik.

Dalam konteks politik desa, pola ini terlihat dalam; Dominasi keluarga tertentu dalam jabatan desa, mobilisasi suara berbasis garis keturunan dan distribusi sumber daya yang lebih menguntungkan jaringan kekerabatan.

Rendahnya Partisipasi Kolektif di Luar Kelompok Keluarga

Pendekatan keluarga menjadi basis utama pemenangan, namun sekaligus berpotensi mempersempit orientasi kepemimpinan pada kepentingan kelompok.

Politik Profetik Sebagai Koreksi Etis.

Konsep politik profetik berangkat dari gagasan bahwa politik harus berorientasi pada nilai-nilai kenabian; keadilan, pembebasan, dan kemanusiaan.

Dalam wacana di Indonesia, gagasan ini banyak dikembangkan oleh Kuntowijoyo melalui konsep ilmu sosial profetik yang menekankan tiga pilar: humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Jika amoral familism menjelaskan realitas politik Desa yang berpusat pada keluarga, maka politik profetik memberikan arah normatif agar kekuasaan tidak berhenti pada loyalitas kekerabatan, tetapi meluas pada tanggung jawab sosial.

Dialektika Antara Keluarga dan Kepentingan Publik

Kolaborasi Analisis Ini Menunjukkan Dua Disi Politik Desa:

Sisi Empirik (Amoral Familisme):

Keluarga adalah basis kekuatan politik yang realistis dan efektif. Tanpa dukungan keluarga besar, sulit memenangkan kontestasi lokal.

Sisi Normatif (Politik Profetik):

Setelah kekuasaan diraih, orientasi harus bergeser dari kepentingan keluarga menuju kepentingan seluruh masyarakat Desa.

Masalah muncul ketika kekuasaan yang diperoleh melalui solidaritas keluarga tidak pernah melampaui batas tersebut. Akibatnya, politik Desa terjebak dalam siklus dominasi kelompok dan melemahkan prinsip keadilan sosial.

Menuju Politik Desa yang Beretika

Pendekatan keluarga dalam politik Desa tidak bisa dihapuskan karena ia merupakan realitas sosiologis. Namun, melalui perspektif politik profetik, loyalitas keluarga harus ditransformasikan menjadi tanggung jawab publik.

Artinya:

Solidaritas keluarga menjadi pintu masuk konsolidasi sosial.

Kekuasaan yang diperoleh harus dikelola secara adil.

Kesimpulan

Teori amoral familism membantu menjelaskan mengapa politik desa sering kali berpusat pada keluarga sebagai basis kekuatan. Sementara itu, politik profetik menawarkan kerangka etis agar kekuasaan tidak berhenti pada kepentingan sempit, melainkan diarahkan pada keadilan dan kesejahteraan kolektif.

Dengan demikian, politik desa yang ideal bukanlah politik yang menafikan keluarga, tetapi politik yang mampu mentransformasikan loyalitas kekerabatan menjadi kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan seluruh warga.

Penulis: Muhamad Hisam

Ilmu Politik UINAM

Editor: reraNews.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *