Advertisement

Dampak Perang As-Israel dan Iran Selat Hormuz Ditutup; Harga Minyak Dunia Akan Naik Secara Drastis dan Indonesia pun Akan Terkena Dampaknya

Penulis ; Sugeng Aryanto (Ketua Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral) HMI Badko Bali Nusra

Konflik yang dimulai oleh AS-Israel dalam menyerang Iran, kini semakin tegang dan panas. Apalagi pada serangan awal yang dilancarkan AS-Israel kabarnya menewaskan pimpinan tertinggi Iran yakni Ayatollah Ali Khamanei. Sehingga Iran pun merespon dengan melancarkan serangan balasan kepada Tel Aviv ibu kota dari Israel hingga Pangkalan Militer AS yang ada di beberapa negara kawasan Timur Tengah.

Peperangan ini disinyalir menjadi ancaman serius bagi perdamaian dunia bahkan banyak narasi-narasi yang mengarah pada sinyal pecahnya Perang Dunia III kalau perundingan tidak dibuka dan tidak memiliki titik temu antara kedua belah pihak. Iran secara tegas merespon bahwa tidak ada ruang diplomasi lagi yang harus dibuka dan dibicarakan setelah kematian pimpinan tertingginya.

Beberapa Pakar Geopolitik pun memprediksi bahwa peperangan ini akan berlangsung lama bahkan melebihi perkiraan Donald Trump selama 4 sampai 5 pekan kedepan. Ini menjadi kondisi yang tidak diinginkan oleh semua pihak karena akan ada banyak dampak yang ditimbulkan dari peperangan ini. Salah satu yang paling disorot yakni dampak global dari ketersediaan kebutuhan pasokan minyak dunia akibat Iran menutup Selat Hormuz bahkan ketika ada yang bersikeras melewati selat itu akan ditembak.

Selat Hormuz ini menjadi jalur energi dunia dimana suplai minyak dunia mencapai 20 persen melewati selat kecil ini. Sehingga ketika jalur ini ditutup maka ketersediaan pasokan minyak dunia akan mengalami penurunan secara drastis dan akan berdampak pada kenaikan harga minyak dunia. Selat Hormuz ini jangankan ditutup total bahkan ketika mengalami gangguan sedikit saja maka akan berdampak pada perekonomian global. Ketika harga minyak dunia meningkat maka akan diikuti pula oleh inflasi secara global. Dampak dari peperangan ini jelas dan nyata bahayanya.

Ditengah peperangan ini muncul pertanyaan apakah Indonesia juga akan merasakan dampak terhadap peperangan yang eskalasinya makin hari makin memanas?

Tentu sangat berdampak juga bagi Indonesia dengan ketegangan yang terjadi ditimur tengah ini. Adapun beberapa dampak yang harus kita terima ketika peperangan ini akan berlangsung panjang yakni;

  1. Tekanan harga energi dan BBM akan naik. Jika terjadi kenaikan harga BBM 120 sampai 130 dolar perbarel, artinya itu akan memberikan tekanan kepada APBN kita, inflasi domestik meningkat dan beban subsidi energi makin meningkat. Data yang kami himpun bahwa Total Subsidi Energi 2025 Anggaran subsidi energi dan kompensasi diproyeksikan mencapai Rp394 triliun, dengan subsidi BBM (jenis tertentu) mencapai Rp26,7 triliun. Ketika harga minyak naik maka beban subsidi APBN pun akan meningkat dan itu bersumber dari APBN.
  2. Efek negatif terhadap nilai tukar rupiah akan melemah dan biaya impor akan meningkat.
  3. Ketahanan pangan seperti gandum, pupuk dan semua rantai suplay distribusi pangan. Hal itu menambah kompeksitas setelah terjadi di Ukraina beberapa waktu lalu pasca peperangan Rusia Ukraina.
  4. Serangan-siber, propaganda-propaganda digital dan polarisasi sosial dan radikalisme transnasional yang bisa memicu emosi dan sikap tindak masyarakat kita.

Contoh nyata propaganda digital yang kita alami sekarang bahwa kita sebagai negara dengan mayoritas penduduk Islam pun di propaganda dengan isu perbedaan mazhab antara Syiah dan Suni sehingga memecah belah umat islam ditengah kondisi yang terjadi di Iran sana. Sewalaupun peperangan ini bukan atas dasar agama tetapi soal geopolitik global.

Pemerintah Indonesia perlu merespon perkiraan dampak ini secara cepat dan memperhitungkan langkah secara matang guna menghindari dampak-dampak yang akan muncul didepan mata kita. Terbaru Mentri ESDM Bahlil Lahadalia mengkinfirmasi bahwa ketersediaan BBM Nasional kita masih aman sampai 20 hari kedepan. Tetapi ketika peperangan ini terjadi melewati perkiraan itu maka kita akan mengalami kondisi yang cukup memprihatinkan.

Sehingga kita mendesak bahwa Indonesia harus melakukan upaya dengan beberapa negara-negara lain untuk menjadi mediator agar peperangan ini tidak berlangsung secara lama. Bahkan pemerintah Indonesia harus menarik diri dari Board of Peace (BoP) bentukan Trump Presiden Amerika Serikat yang notabene sebagai pemicu terjadinya peperangan ini. Sehingga posisi Indonesia dinilai sebagai posisi yang netral.

 

Penulis : Sugeng Aryanto (Ketua Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral) HMI Badko Bali Nusra

Editor : reraNews.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *