Advertisement

Politik Desa: Tipe pemilih dalam Perspektif Budaya Politik

Muhammad Hisam Alumni ilmu politik

Politik desa merupakan arena sosial yang unik. Ia tidak hanya berbicara tentang kontestasi kekuasaan, tetapi juga menyangkut relasi kekerabatan, nilai budaya, serta struktur sosial yang mengakar kuat. Dalam banyak kasus, politik desa berjalan bukan semata-mata berdasarkan program dan gagasan, melainkan melalui jaringan keluarga dan loyalitas sosial. Pendekatan budaya politik menjadi tiga tipe utama: parokial, kaula (subject), dan partisipan. Ketiganya dapat digunakan untuk membaca tipe pemilih dalam politik desa.

Budaya Politik Parokial: Pemilih Tradisional dan Apatis

Dalam budaya politik parokial, masyarakat memiliki keterlibatan politik yang sangat rendah. Warga tidak melihat diri mereka sebagai bagian dari sistem politik. Politik dianggap jauh, tidak penting, atau bahkan tidak berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari.

Ciri tipe pemilih parokial di desa:

  1. Memilih karena ikut-ikutan keluarga.
  2. Tidak memahami visi-misi calon.
  3. Menganggap pemilihan sebagai rutinitas, bukan proses menentukan masa depan desa.
  4. Mudah dipengaruhi oleh hubungan kekerabatan dan sentimen primordial.

Dalam konteks desa, tipe ini sering muncul pada masyarakat yang masih sangat kuat dengan struktur hubungan genealogis. Politik dipahami sebagai perpanjangan dari hubungan sosial, bukan arena rasional untuk memperjuangkan kepentingan publik.

Budaya Politik Kaula (Subject): Pemilih Patuh dan Bergantung

Budaya politik kaula menunjukkan masyarakat yang sudah mengenal sistem politik, tetapi posisinya pasif. Mereka sadar ada pemerintah desa, ada kepala desa, ada aturan—namun tidak merasa memiliki kekuatan untuk memengaruhi kebijakan.

Ciri tipe pemilih kaula di desa:

  1. Memilih berdasarkan arahan tokoh berpengaruh (elite lokal).
  2. Mengharapkan imbalan atau bantuan (politik transaksional).
  3. Takut berbeda pilihan karena tekanan sosial.

Dalam kondisi ini, relasi patron-klien sangat dominan. Pemilih cenderung melihat calon sebagai “pemberi bantuan” bukan sebagai pelayan publik. Politik menjadi relasi ketergantungan, bukan partisipasi setara.

Budaya Politik Partisipan: Pemilih Kritis dan Rasional

Budaya politik partisipan menggambarkan warga yang sadar akan hak dan kewajibannya. Mereka tidak hanya memilih, tetapi juga mengawasi dan menuntut akuntabilitas.

Ciri tipe pemilih partisipan di desa:

  1. Menilai calon berdasarkan program dan rekam jejak sosial politik.
  2. Aktif dalam kegiatan desa dan pendidikan politik
  3. Memahami politik sebagai alat perubahan sosial.

Tipe ini biasanya muncul di desa yang tingkat pendidikan dan akses informasinya lebih baik. Media sosial, organisasi kepemudaan, dan keterlibatan dalam forum desa mendorong kesadaran politik yang lebih matang.

Menariknya, dalam satu desa ketiga tipe ini sering hidup berdampingan. Seorang warga bisa bersikap parokial dalam isu tertentu, tetapi partisipatif dalam isu lain.

Politik desa sejatinya adalah arena pendidikan politik paling dasar. Jika budaya parokial dan kaula terus dominan, maka politik desa akan stagnan dalam lingkaran patronase dan transaksional. Namun jika budaya partisipan tumbuh, desa dapat menjadi ruang demokrasi deliberatif yang sehat.

Maka, pertanyaannya bukan sekadar siapa yang menang dalam Pilkades, tetapi budaya politik apa yang sedang tumbuh di desa tersebut?

Karena masa depan demokrasi nasional, sesungguhnya, dimulai dari kualitas budaya politik di desa.

 

Penulis: Muhammad Hisam (Alumni ilmu politik)

Editor: reraNews.id

 

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *